Ocha WeBlog

Proud to be Moslemah Doctor- FK UIN Syarif Hidayatullah

Neoplasia – Tumor


Secara harfiah neoplasia berarti pertumbuhan baru, dan pertumbuhan baru ini disebut neoplasma. Menurut Sir Rupert Wilis seorang onkolog dari Inggris, neoplasma adalah massa jaringan yang abnormal, tumbuh berlebihan, tidak terkoordinasi dengan jaringan normal dan tumbuh terus menerus meskipun rangsang yang menimbulkannya/memulainya telah hilang.

Proliferasi neoplastik menimbulkan massa neoplasma menimbulkan pembengkakan/ benjolan pada jaringan tubuh, membentuk tumor. Istilah tumor mula-mula dipergunakan untuk pembengkakan oleh sembab jaringan atau perdarahan. Jadi tumor berarti neoplasma yang menurut sifat biologiknya dibedakan atas tumor jinak dan tumor ganas. Semua Tumor ganas disebut dengan kanker (cancer). Ilmu yang mempelajari tunor disebut onkologi.

Klasifikasi tumor (neoplasma)

Klasifikasi neoplasma ialah pengelompokan neoplasma yang mempunyai sifat hampir sama dan memisahkan yang tidak sama sehingga dapat ditentukan prognosis dan pengobatannya. Klasifikasi neoplasma biasanya berdasarkan :

Sifat Biologik Tumor

Berdasarkan sifat biologiknya tumor dapat dibedakan menjadi tumor jinak (benigna), tumor ganas (maligna) serta tumor yang terletak antara jinak dan ganas (intermediet).

  • Tumor jinak (benigna)

Tumor jinak tumbuhnya lambat dan biasanya mempunyai simpai (kapsul), tidak tumbuh infiltratif, tidak merusak jaringan sekitarnya dan tidak menyebar pada tempat yang jauh. Tumor jinak pada umumnya dapat disembuhkan dengan sempurna kecuali yang mensekresi hormon atau ynag terletak pada tempat ynag sangat penting, misalnya di sumsum tulang belakang ynag dapat menimbulkan paraplegia atau pada saraf otak yang menekan jaringan otak.

  • Tumor ganas (malignan)

Pada umumnya tumor ini tumbuh cepat, infiltratif dan merusak jaringan disekitarnya. Disamping itu dapat menyebar keseluruh tubuh melalui aliran limfe atau aliran darah. Tumor ini sering menyebabkan kematian.

  • Intermediet

Diantara 2 kelompok tumor jinak dan tumor ganas terdapat segolongan kecil tumor yang mempunyai invasive local tetapi kemampuan metastatisnya kecil. Tumor ini disebut tumor yang agresif lokal atau tumor ganas derajat rendah. Sebagai contoh, karsinoma sel basal kulit.

Tumor Jinak Tumor ganas derajat rendah (agresif lokal) Tumor ganas
Sifat pertubuhan Lambat Bervariasi Cepat
Tumbuh infiltratif Tidak Lokal Infiltratif
Kemampuan metastasis Tidak ada Rendah/tidak Tinggi
Pengobatan Eksisi Eksisi luas Eksisi luas, pengangkatan KGB regional, pengobatan sistemik (kemoterapi)
Angka kesembuhan setelah operasi Tinggi Cenderung residif Buruk, cenderung residif dan metastasis

Asal Jaringan (Histogenesis)

  • Sel totipoten

Sel totipoten adalah sel yang dapat berdiferensiasi ke dalam tiap jenis sel tubuh. Sebagai contoh ialah zygote yang berkambang menjadi janin. Paling sering sel totipoten dijumpai pada gonad yaitu sel germinal. Dapat pula terjadi retroperitoneal, dimesdiatinum, dsan daerah tineal.

Tumor sel germinal

Tumor sel germinal dapat berbentuk sebagai sel tidak berdiferensiasi, contohnya seminoma atau digerminoma. Yang berdiferensiasi minimal contohnya karsinoma embrional. Yang berdiferensiasi ke jenis jaringan termasuk trofoblas misalnya choriocarcinoma dan yolk sac carcinoma. Yang berdiferensiasi somatik ialah teratoma. Dapat terjadi campuran pada satu tumor. Teratoma sebagai tumor yang berdiferensiasi somatik mengandung unsur-unsur ketiga jenis lapisan benih : ektoderm,mesoderm, dan endoderm sehingga pada tumor akan tampak berbagai jenis jarinagn misalnya kulit, lemak, otot,tulang, tulang rawan, gigi, rambut, selaput lendir saluran cerna atau jaringan otak yang tidak terorganisir dengan baik. Teratoma dapat diklasifikasikan enjadi teratoma padat atau kistik. Teratoma kistik kebanyakan jinak, sedagkan teratoma padat biasanya ganas. Dapat pula dibedakan atas teratoma matur (berdiferensiasi baik) jiak terdiri atas jaringan berbentuk dewasa dan teratoma imatur jika terdiri atas jaringan tipe fetal. Teratoma imatur biasanya ganas, sedangkan teratoma matur kebanyakan jinak.

  • Sel embrional pluripoten

Sel embrional pluripoten dapat berdiferensiasi ke dalam berbagai jenis sel dan sebagai tumor akan membentuk berbagai jenis struktur alat tubuh. Sebagia contoh ialah tumor sel embrional pluripoten yang bersal dari anak ginjal, dan disebut nefroblastoma, sering berdiferensiasi ke dalam struktur yang menyerupai tubulus ginjal dan kadang-kadang jaringan otot, tulang rawan atau tulang rudimenter.

Tumor sel embrional pluripoten biasanya disebut embrioma atau blastoma, misalnya retinoblastoma, hepatoblastoma, embryonal rhabdomyosarcoma.

  • Sel bediferensiasi

Jenis sel dewasa yang berdiferensiasi, terdapat dalam bentuk sel alat-lat tubuh pada kehidupan postnatal. Kebanyakan tumor pada manusia terbentuk dari sel berdiferensiasi.

Tatanama tumor ini merupakan gabungan berbagai faktor yaitu, perbedaan antara jinak dan ganas, asal epitel dan mesenkim, lokasi dan gambaran deskriptif lain.

Tumor epitel

Tumor jinak epitel disebut adenoma jika terbentuk dari epitel kelenjar, misalnya adenoma tiroid, adenoma kolon.

Disebut papiloma jika berasal dari epitel permukaan dan mempunyai arsitektur papiler. Papiloma dapat timbul dari epitel skuamosa (papiloma skuamosa), epitel permukaan duktus kelenjar (papiloma intraduktural pada payudara) atau sel transisional (papiloma sel transisional). Tidak jarang sifat deskriptif digabungkan pada tatanama misalnya adenoma kolon vilosum atau adenoma kolon tubuler.

Tumor ganas epitel disebut karsinoma. Kata ini berasal dari kata yunani yang berarti kepiting. Jika berasal dari sel skuamosa disebut karsinoma sel skuamosa. Disebut karsinoma sel transisional bila berasal dari sel transisional. Tumor ganas epitel yang ebrasal dari epitel kelenjar disebut adenokarsinoma, misalnya adenikarsinoma payudara, adenokarsinoma kolon. Pada nama tersebut selain nama asal alat kadang-kadang disertakan juga sifat sel tumor tersebut, misalnya adenokarsinoma sel jernih (clear cell adenocarcinoma) ginjal, adenokarsinoma papilar tiroid atau adenokarsinoma verukosa laring.

Tumor jaringan mesenkim

Tumor jinak mesenkim sering ditemukan meslipun biasanya kecil dan tidak begitu penting, dan diberi nama asal jaringan (nama Latin) dengan akhiran oma. Misalnya tumor jinak jaringan ikat (Latin fiber) disebut fibroma. Tumor jinak jaringan lemak (Latin adipose) disebut lipoma. Pada nama tumor dapat pula terkandung nama asal jaringan dan sifat morfologik tumor misalnya hemangioma kapilare dan hemangioma kavernosum.

Tumor ganas jaringan mesenkim yang ditemukan kurang dari 1% diberi nama asal jaringan (dalam bahasa latin atai yunani) dengan akhiran sarcoma. Sebagai contoh tumor ganas jaringa ikat disebut fibrosarkoma dan yang bersal dari jaringan lemak diberi nama liposarkoma. Istilah sarkoma sendiri dapat dipakai tersendiri yang berarti tumor ganas yang berasal dari mesenkim. Sarkoma berasal dari bahasa yunani untuk daging (flesh). Sifat morfologik tumor juga sering disertakan misalnya liposarkoma diklasifikasikan sebagai sklerosing, miksoid, sel bvulat atau pleomorfik.

Kekecualian ketentuan di atas diberlakukan pada beberapa kelompok tumor yang namanya tidak sesuai dengan ketentuan di atas :

Tumor yang mungkin kedengarannya jinak tetapi sebenarnya ganas

Terdapat beberapa tumor ganas yang namanya berakhiran oma pada nama asal selnya tetapi sebenarnya tumor tesebut merupakan tumor ganas. Sebagai contoh adalah limfoma (berasal dati limfosit), plasmasitoma (berasal dari sel plasma), glioma (berasal dari sel glia), dan astrositoma (berasal dari sel astrosit). Untuk menjelaskan sifat ganasnya maka dicantumkan kata maligna, sehingga namanya menjadi lymphoma maligna, melanoma maligna. Emskipun tidak dicantumkan sebenarnya tumor tersebut berarti ganas oleh karena tidak ada limfoma, melanoma atau glioma yang jinak.

Tumor yang golongan namanya kedengaran ganas tetapi sebanarnya jinak

Dua tumor tulang yang jarang ditemikan yaitu osteoblastoma dan kondroblastoma bergolongan nama ganas sebab berakhiran blastoma, tetapi ternyata merupakan tumor jinak, berasal dari osteoblas dan kondroblas yang terdapat pada tulang dewasa.

  • Leukimia

Lekemi adalah tumor alat pembentuk darah. Penyakit ini dianggap ganas meskipun beberapa diantaranya menunjukkan perjalanan klinik lambat. Lekemi dibedakan atas dasar gambaran klinik (akut dam kronik) dan atas dasar asal sel (limfositik, granulositik, mielositik, promielositik, monositik). Lekemi bersifat tersifat dengan adanya sel tumor pada sumsum tulang dan pada darah tepi. Jarang menimbulkan tumor lokal.

  • Tumor yang asal selnya tidak siketahui

Untuk tumor yang tidak diketahui asalnya pada waktu pertama kali ditemukan, maka nama orang yang pertama kali menggambarkan tumor tersebut dipakai unutk nama tumor tersebut.

Sebagai cotoh ialah Ewing’s sarcoma, Hodgkin’s lymphoma, Brenner’s tumor, Burkitt’s lymphoma, Wilm’s tumor, Grawitz’s tumor.

Bila histiogenesis tumor tersebut telah diketahui maka namanya akan berubah misalnya Wilm’s tumor sekarang menjadi nefroblastoma, Burkitt’s lymphoma disebut lymphocytic lymphoma sekarang tergolong B-cell lymphoma, Grawitz’s tumor disebut adenokarsinoma ginjal.

Daftar Pustaka

  • Pringgoutomo S. HimawanS. Tjarta. Buku ajar Patologi I (umum). Ed 1. Jakarta: Sagung Seto. 2006
2 Comments »

Laporan Anamnesis konjungtivitis Bakteri


Status Pasien

Nama : Nn.  Ana

Usia : 20 th

Alamat : Pisangan – Ciputat

Status Pernikahan : Belum Menikah

Pendidikan Terakhir : SMA

Pekerjaan : Mahasiswi

Agama : Islam

Suku : Jawa

Keluhan Utama

Mata kanan merah sejak 3 hari yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang

Nn. Ana seorang mahasiswi usia 20 tahun datang dengan keluhan mata kanan merah sejak 3 hari yang lalu. Ia merasa sedikit gatal. Nyeri yang ia rasakan pedih, tidak ada riwayat kelilipan. Ia juga merasa bahwa kelopak matanya menjadi bengkak. Selama ini ia memakai kacamata karena minus 1 pada mata kanan dan mata kirinya. Ia merasa Tidak ada penurunan tajam penglihatan dan tidak silau terhadap cahaya. Setiap pagi ia sulit membuka mata karena banyak kotoran berwarna kuning yang menempel pada kelopak mata. Ia merasa seperti menangis karena air matanya sering keluar. Ia menyangkal adanya demam dan keluhan lain. Selama ini ketika mengalami mata merah ia menggunakan obat tetes mata (insto), tetapi untuk keluhan sekarang ia merasa tidak ada perbaikan. Tidak ada riwayat trauma.

Riwayat Penyakit Dahulu

Nn. Ana Pernah mengalami mata merah karena kelilipan tetapi sembuh setelah diberi insto. Ia menyangkal adanya penyakit asma, tekanan darah tinggi dan diabetes mellitus.

Riwayat Penyakit Keluarga

Nn Ana melihat Ayah dan ibunya harus menggunakan kacamata ketika membaca. Ia menyangkal adanya penyakit asma dalam keluarganya. Ayah Nn. Ana pernah menderita tekanan darah tinggi tetapi sudah diobati. Di keluarganya tidak ada yang menderita Diebetes Mellitus.

Riwayat Sosial

Nn. Ana Tinggal di kost bersama teman – teman 1 jurusan. Lingkungan kos tempat ia tinggal bersih dan sanitasinya baik. Ia mengatakan bahwa teman kamarnya ada yang mengalami mata merah. Selama ini tidak pernah memakai lensa kontak. Ia menyangkal adanya alergi terhadap makanan dan obat tertentu. Ia tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol. Ia mengatakan tidak sedang mengkonsumsi obat tertentu. Ia memiliki kebiasaan membaca sambil tiduran.

Kesimpulan

Konjungtivitis Bakteri

Daftar Pustaka

  • Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Ed 3. Jakarta: Balai penerbit FKUI. 2009
  • Vaughan DG. Asbury T. Eva PR. Oftamologi umum. Ed 14. Jakarta: Widya medika. 2000
Leave a comment »

Katarak


Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract, dan Latin Cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidarasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa.

Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama.

Katarak umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga akibat kelainan congenital, atau penyulit penyakit mata local menahun. Bermacam-macam penyekit mata dpat mengakibatkan katarak seperti glaucoma, ablasi, uveitis, dan retinitis pigmentosa. Katarak dapat berhubungan dengan proses penyakit intraokuler lainnya. Katarak juga dapat disebabkan bahan toksik khusus (kimia dan fisik). Keracunan beberapa jenis penyakit juga dapat menimbulkan katarak;seperti eserin (0,25-0,5%), kortikosteroid, ergot, dan antikolinesterase topical.

Kelainan sistemik atau metabolik yang dapat menimbulkan katarak adalah diabetes mellitus, galaktosemia, dan distrofi miotonik.

Katarak dapat ditemukan dalam keadaan tanpa adanya kelainan mata atau sistemik (katarak senile, juvenil, herediter) atau kelainan congenital mata.

Katarak dapat disebabkan oleh berbagai faktor berikut:

  • Fisik
  • Kimia
  • Penyakit prdisposisi
  • Genetik dan gangguan perkembangan
  • Infeksi virus dimasa pertumbuhan janin
  • Usia

Pada pasien katarak biasanya mengalami keluhan penglihatan seperti berasap dan tajam penglihatan yang menurun secara progresif. Kekeruhan lensa ini mengakibatkan lensa tidak transparan, sehingga pupil akan berwarna putih atau abu-abu.

Pada mata akan tampak kekeruhan lensa dalam bermacam-macam bentuk dan tingkat. Kekeruhan ini juga dapat ditemukan pada berbagai lokalisasi di lensa seperti korteks dan nukleus.

Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien katarak adalah pemeriksaan sinar celah (slitlamp), funduskopi, pada kedua mata bila mungkin, tonometer selain daripada pemeriksaan prabedah yang diperlukan lainnya seperti adanya infeksi pada kelopak mata, konjungtiva, karena dapat menjadi penyulit yang berat berupa panoftalmitis pasca bedah dan fisik umum.

Pada katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan sebelum dilakukan pembedahan untuk melihat apakah kekeruhan sebanding dengan turunnya tajam penglihatan. Pada katarak nuclear tipis dengan myopia tinggi akan terlihat tajam penglihatan yang tidak sesuai, sehingga mungkin penglihatan yang turun akibat kelainan pada retina dan bila dilakukan pembedahan maka akan memberikan hasil tajam pengllihatan yang tidak memuaskan. Sebaliknya pada katarak kortikal posterior yang kecil akan mengakibatkan penurunan tajam penglihatan yang sangat berat pada penerangan yang sedang ataupun keras akantetapi bila pasien berada ditempat gelap maka tajam penglihatan akan memperlihatkan banyak kemajuan.

Pengobatan katarak adalah tindakan pembedahan. Setelah pembedahan lensa diganti dengan kacamata afakia, lensa kontak atau lensa tanam intraokuler.

Klasifikasi Katarak

Berdasarkan usia, katarak diklasifikasikan dalam:

  • Katarak congenital, katarak yang sudah terlihat pada usia dibawah 1 tahun
  • Katarak juvenile, katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
  • Katarak senilis, katarak yang terjadi setelah usia 50 tahun

Bila mata sehat dan tidak terdapat kelainan sistemik maka hal ini biasanya terdapat pada hamper semua katarak seniliis, katarak herediter dan kongnital.

Katarak kongenital

Kataraka kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bati berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital marupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganannya yang kurang tepat.

Katarak kongenital digoloongkan dalam katarak:

  • Kapsulolentikuler dimana pada golongan ini termasuk katarak kapsular dan katarak polaris.
  • Katarak lentikular termasuk dalam golongan ini kataraka yang mengenai korteks dan nukleus lensa saja.

Dalam kategori ini termsuk kekeruhan lensa yang timbul sebagai kejadian primer atau berhubungan dengan penyakit ibu dan janin local atau umum.

Untuk mengetahui penyebab katarak kongenital diperlukan pemeriksaan riwayat prenatal infeksi ibu seperti rubella pada kehamilan trimester pertama dan pemakaian obat selama kehamilan. Kadang-kadang pada ibu hamil terdapat riwayat kejang, tetani, ikterus atau hepatosplenomegali. Bila katarak disertai dengan uji reduksi pada urin yang positif, mungkin katarak terjadi akibat galaktosemia. Sering katarak kongenital ditemukan pada bayi premature dan gangguan sistem saraf seperti retardasi mental.

Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungna katarak congenital dengan diabetes mellitus, kalsium dan fosfor. Hampir 50% dari katarak kongenital adalah sporadic dan tidak diketahui penyebabnya.

Penanganan tergantung pada unilateral dan bilateral, adanya kelainan mata lain, dan saat terjadi katarak. Katarak kongenital prognosisnya kurang memuaskan karena tergantung pada bentuk katarak dan mungkin sekali pada mata tersebut telah terjadi ambliopia. Bila tredpat nistagmus maka keadaan ini menunjukkan hal yang buruk pada katarak kongenital.

Pada katarak kongnital dapat dikenal beberapa bentuk:

  • Katarak piramidalis atau Polaris anterior
  • Katarak piramidalis atau Polaris posterior
  • Katarak zonularis atau lamalaris
  • Katarak pungtata dan lain-lain.

Pada pupil mata bayi yang menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih atau leukokoria. Pada setiap leukokoria diperlukan pemeriksaan yang lebih teliti untuk menyingkirkan diagnosis banding lainnya. Pemeriksaan leukokoria dilakukan dengan melebarkan pupil.

Pada katarak kongenital total penyulit yang dapat terjadi adalah macula lutea yang tidak cukup mendapat rangsangan. Macula ini tidak akan berkembang sempurna walaupun dilakukan ekstraksi katarak maka visusnya biasanya tidak akan mencapai 5/5. Hal ini disebut ambliopia sensoris (ambyopia ex anopsia). Katarak ckngenital dapat menimbulkan komplikasi lain berupa nistagmus dan strabismus.

Katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit rubella, galaktosemia, homosisteinuria, inklusi sitomegalik, diabetes mellitus, hipoparatiroidism, toksoplasmosis, dan histoplasmosis. Penyakit lain yang menyertai katarak congenital biasanya merupakan penyakit-penyakit herediter seperti mikroftalmus, aniridia, koloboma iris, karatoknus, iris heterokromia, lensa ektopik, dysplasia retina, dan megalo kornea.

Kekeruhan pada katarak congenital dapat dijumpai dalam berbagai bentuk dan gambaran morfologik.

Tindakan pengobatan pada katarak kongnital adalah operasi. Operasi katarak congenital dilakukan bila reflex fundus tidak tampak. Biasanya bila katarak bersifat total. Operasi dapat dilakukan pada usia 2 bulan atau lebih muda bila telah dapat dilakukan pembiusan.

Tindakan bedah pada katarak congenital yang umum dikenal adalah disisio lensa, ekstraksi liniar, ekstraksi dengan aspirasi.

Pengobatan katarak congenital bergantung pada:

  • Katarak totak bilateral, dimana sebaiknya dilakukan pembedahan secepatnya segera katarak terlihat.
  • Katarak total unilateral, dilakukan pembedahan 6 bulan sesudah terlihat atau segera sebelum terjadiny juling; bila terlalu muda akan mudah terjadi ambliopia bila tidak dilakukan tindakan segera.
  • Katarak total atau kongenital unilateral, mempunyai prognosis yang buruk, karena mudah sekali terjadi ambliopia; karena itu sebaiknya dilakukan pmbedahan secepat mungkin, dan diberikan kacamata segera dengan latihan beban mata.
  • Katarak bilateral partial, biasanya pengobatan lebih konservatif sehingga sementara dapar dicoba dengan kacamata atau midriatika;; bila terjadi kekeruhan yang progresif disertai dengan mulainya tanda-tanda juling dan ambliopia maka dilakukan pembedahan, biasanya mempunyai prognosis yang lebih baik.

Katarak Rubela

Rubella pada ibu dapat mengakibatkan katarak pada lensa fetus. Terdapat 2 bentuk kekeruhan sentral dengan perifer jernih seperti mutiara atau kekeruhan diluar nuclear yaitu korteks anterior dan posterior atau total. Mekanisme terjadinya tidak jelas, akan tetapi diketahui bahwa rubella dapat dengan mudah menular melalui barier plasenta. Virus ini dapat masuk atau terjepit di dalam vesikel lensa dan bertahan di dalam lensa sampai 3 tahun.

Katarak Juvenil

Katarak yang lembek dan terdapat pada orang muda, yang mulai terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenile biasanya merupakan kelanjutan katarak congenital.

Katarak juvenile biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolic dan penyakit lainnya seperti:

  • Katarak metabolik
    • Katarak diabetic dan galaktosemia (gula)
    • Katarak hipokalsemik (tetanik)
    • Katarak defisiensi gizi
    • Katarak aminoasiduria (termasuk sindrom lowed an homosistinuria)
    • Penyakit Wilson
    • Katarak berhubungan dengan kelainan metabolik
  • Otot
    • Distrofi miotonik (umur 20 sampai 30 tahun)
  • Katarak traumatic
  • Katarak komplikata
    • Kelainan congenital dan hereditary (siklopia, koloboma, mikroftalmia, aniridia, pembuluh hialoid persisten, heterokromia iridis)
    • Katarak degenerative (dengan myopia dan distrofi vitreoretinal), seperti Wagner dan retinitis pigmentosa, dan neoplasma
    • Katarak anoksik
    • Toksid (kortikosteroid sistemik atau topical, ergot, naftalein, dinitrofenol, triparanol [MER-29], antikolinesterase, klorpromazin, miotik, busulfan, dan besi)
    • Katarak radiasi

Katarak senile

Katarak senile adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun. Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti.

Perubahan lensa pada usia lanjut:

  • Kapsul
    • Menebal dan kurang elastic (1/4 diabnding anak)
    • Mulai presbiopia
    • Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
    • Terlihat bahan granular
  • Epitel – makin tipis
    • Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat
    • Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata
  • Serat lensa
    • Lebih irregular
    • Pada korteks jelas kerusakan serat sel
    • Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah protein nucleus (histidin, triptofan, metionin, sistein, dan tirosin) lensa, sedang warna coklat protein lensa nukleus mengandung histidin dan triptofan disbanding normal.
    • Korteks tidak berwarna karena:
      • Kadar a. askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi
      • Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda

Kekeruhan lensa dengan nucleus yang mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun.

Pada katarak senile sebaiknya disingkirkan penyakit mata local dan penyakit sistemik seperti diabetes mellitus yang dapat menimbulkan katarak komplikata. Katarak secara klinik dikenal dalam 4 stadium yaitu insipien, imatur, intumessen, matur, hipermatur dan morgagni.

Perbedaan stadium katarak senile

Insipien Imatur Matur Hipermatur
Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan lensa Normal Bertambah (masuk) Normal Berkurang (air+masa lensa keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik mata depan Normal Dangkal Normal Dalam
Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka
Shadow test Negatif Positif Negatif Pseudopos
Penyulit Glaukoma Uveitis + glaukoma

Katarak Insipien

Pada stadium ini akan terlihat hal-hal berikut :

Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat didalam korteks.

Katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi jaringan degenaratif (benda morgagni) pada katarak insipien.

Kekeruahn ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.

Katarak intumessen

Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat yang degenerative menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal disbanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penulit glaucoma. Katarak intumessen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan myopia lentikular. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah yang akan memberikan miopisasi.

Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa.

Katarak Imatur

Sebagian lensa keruh atau katarak. Katarak yang belum mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degenerative. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaucoma sekunder.

Katarak matur

Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa. Kekeruhan ini bias terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila katarak imatur atau intumessen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal. Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan mengakibatkan kelsifikasi lensa. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negative.

Katarak Hipermatur

Katarak hipermatur, katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi keras atau lembek dan mencair.

Masa lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadang-kadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula zinn menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks akan memperlihatkan bentuk menjadi sekantong susu disertai dengan nucleus yang terbenam didalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak morgagni.

Tidak diketahui kenapa katarak senile pada orang tertentu berbentuk korteks anterior dengan celah air, nucleus, dan korteks subkapsular posterior. Mungkin terdapat factor penentu lainnya.

Katarak Brunesen

Katarak yang berwarna coklat sampai hitam (katarak nigra) terutama pada nucleus lensa, juga dapat terjadi pada katarak pasien diabetes mellitus dan myopia tinggi. Sering tajam penglihatan lebih baik daripada dugaan sebelumnya dan biasanya ini terdapat pada orang berusia lebih dari 65 tahun yang belum memperlihatkan adanya katarak kortikal posterior.

Pengobatan terhadap katarak adalah pembedahan. Pembedahan dilakukan apabila tajam penglihatan sudah menurun sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila katarak ini menimbulkan penyulit seperti glaucoma dan uveitis.

Daftar Pustaka

  • Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Ed 3. Jakarta: Balai penerbit FKUI. 2009
9 Comments »