Ocha WeBlog

Proud to be Moslemah Doctor- FK UIN Syarif Hidayatullah

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI ” ANALISA SEMEN “


ANALISIS SEMEN

Tujuan

Mempelajari bagaimana melakukan evaluasi semen manusia.

Petunjuk

Lihat buku petunjuk WHO “ Manual for the examination of the Human Semen and Sperm-Mucus Interaction “ (WHO, 1999) berikut ini:

Recommendation Standards of Analysis of Human Semen
Macroscopic examination Microscopic examination Sperm Function Test
  1. Koagulasi dalam semen
  2. Likuifaksi
  • Warna
  • Volume
  1. Volume
  2. Viskositas
  3. pH
  1. Sperma motil (%/mL)
  2. Gerak sperma lurus (%)
  3. Kontrkasi Sperma (106/mL)
  4. Total sperma per ejakulat
  5. Morfologi sperma
  6. Sel-sel bulat
  1. Uji HOS
  2. Uji eosin Y
  3. Uji Interaksi Sperma-mucus

Dasar Teori

Analisa semen dapat dilakukan untuk mengevaluasi gangguan fertilitas (kesuburan) yang disertai dengan atau tanpa disfungsi hormon androgen. Dalam hal ini hanya beberapa parameter ejakulat yang diperiksa (dievaluasi) berdasarkan buku petunjuk WHO “ Manual for the examination of the Human Semen and Sperm-Mucus Interaction “ (WHO, 1999).

Spermatogenesis

Peralihan dari bakal sel kelamin yang aktif membelah ke sperma yang masak serta menyangkut berbagai macam perubahan struktur yang berlangsung secara berurutan. Spermatogenesis berlangsung pada tubulus seminiferus dan diatur oleh hormone gonadtotropin dan testosterone (Wildan yatim, 1990).

Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu :

1.Spermatocytogenesis

Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosit primer.

Spermatogonia

Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan reproduksi (membelah) dengan cara mitosis. Spermatogonia ini mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi spermatosit primer.

Spermatosit Primer

Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder.

2. Tahapan Meiois

Spermatosit I (primer) menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera mengalami meiosis I yang kemudian diikuti dengan meiosis II.

Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang lengkap terpisah, tapi masih berhubungan sesame lewat suatu jembatan (Interceluler bridge). Dibandingkan dengan spermatosit I, spermatosit II memiliki inti yang gelap.

3. Tahapan Spermiogenesis

Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4 fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa masak. Dua spermatozoa akan membawa kromosom penentu jenis kelamin wanita “X”. Apabila salah satu dari spermatozoa ini bersatu dengan ovum, maka pola sel somatik manusia yang 23 pasang kromosom itu akan dipertahankan. Spermatozoa masak terdiri dari :

    • Kepala (caput), tidak hanya mengandung inti (nukleus) dengan kromosom dan bahan genetiknya, tetapi juga ditutup oleh akrosom yang mengandung enzim hialuronidase yang mempermudah fertilisasi ovum.
    • Leher (servix), menghubungkan kepala dengan badan.
    • Badan (corpus), bertanggungjawab untuk memproduksi tenaga yang dibutuhkan untuk motilitas.
    • Ekor (cauda), berfungsi untuk mendorong spermatozoa masak ke dalam vas defern dan ductus ejakulotorius.

Hasil Praktikum

  • Likuifaksi
    • Warna : putih keabuan
    • Bau : bunga Accacia
  • Volume : 2,5 mL
  • pH : 7,2
  • Penghitungan konsentrasi sperma (106/mL) menggunakan hematositometer
7 3
5 6
5 4
5 5
3 4
Σ = 25 Σ = 22
Σ = 47

Hasil perhitungan Konsentrasi sperma

Σ spermatozoa =          ( Σ total :  faktor konversi )   x 106

Σ spermatozoa =          ( 47 : 2  )  x 106

= 23,5 x 106 / mL

Total Sperma per ejakulat = Konsentrasi sperma x Volume sperma

= 23,5. 106 x 2,5

= 58,75 . 106 / ejakulat

Pembahasan

Dari analisis yang dilakukan tidak semua pemeriksaan dapat dilakukan karena sperma yang di analisis tidak dalam kondisi segar. Sehingga banyak sperma yang sudah immotil, akibat sulut untuk menentukan bagaimana kondisi motilitas dari sperma yang diukur.

Kesimpulan

Dari hasil analisis sperma yang dapat dilakukan, kondisi sperma masih dalam batas normal. Tetapi hal ini masih perlu dilakukan pemeriksaan ulang dengan sperma yang segar sehingga mendapatkan hasil yang sesuai dengan kondisi yang dialami pasien.

DAFTAR PUSTAKA

  • Sherwood, Lauree. Fisiologi manusia:dari sel ke sistem. Ed.2. Jakarta:EGC. 2001
  • Guyton & Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed 9. Jakarta:EGC, 1997
  • Martini, FH. Fundamentals of anatomy & physiology. 8th. Benjamin Cummings. 2006. p:1016-7
Advertisements
4 Comments »

Konsumsi Alkohol dan Efek dari Alkohol


Konsumsi alkohol

Alkohol (etanol,dalam konteks makanan) dioksidasi menjadi CO­­­­­­ 2 dan H2O dalam tubuh serta menghasilkan energi sekitar 7 kkal/gr,lebih besar dari karbohidrat (sekitar 4 kkal) tetapi lebih kecil daripada lemak (sekitar 9 kkal).Konsumsi alkohol sebaiknya tidak lebih (dan mungkin kurang) dari 1 oz (sekitar 15 gr),jumlah ini tedapat dalam 2 gelas anggur kecil.

Kandungan etanol biasanya dinyatakan sebagai % dari bagian volume. Untuk memperkirakan pengmbilan alkohol dan kadar alkohol dalam plasma diperlukan perhitungan dalam satuan gr etanol (berat jenis 0.79 kg.L-1). I botol bir (0,5 L dengan 4 vol.&) mengandung 20 mL=16 gr etanol, 1 botol anggur (0,7 L drengan 10 vol.%) mengandung 70 mL= s55 gr etanol.

Kadar alkohol dalam minuman ditunjukan dengan istilah “proof”. “proof” yang tertulis dilabel kemasan minuman adalah sama dengan dua kali kadar miniman tersebut. Misal dalam minuman tertulis “100 proof”, maka minuman tesebut mempunyai kadar alkohol 50%. Alkohol murni mempunyai “proof” sebesar 200.

Kadar alkohol dalam darah ditentukan oleh jumlah dan kecepatan konsumsi etanol serta laju metabolisme. Katika kadar alkohol dalam darah mencapai 0,05%, efek depresan dari alkohol mulai bekerja. Pad kadar 0,1%, syaraf-syaraf motorik mulai terpengaruh. Pada kadar 0,2% dalam darah, syaraf motorik seorang mengalami kelumpuhan dan keadaan emosi yang terganggu.sedangkan dalam kadar 0,3% dapat menyebakan kolaps. Kemudian dengan kadar 0.4%-0,5% dalam darah, orang akan berada dalam keadaan koma, serta beberapa bagian otak yang mengatur detak jantung dan pernafasan akan terganggu sehingga dapat menimbulkan kematian.

Pada beberapa negara bagian di amerika Serikat, kadar mabuk didefinisikan sebagai kadar alkohol mencapai 0,1% di dalam darah. Sedangkan dalam Undang-Undang mengenai keamanan berkendaraan di jalan raya di beberapa negara bagian AS, keadaan mabuk bahkan didefinisikan lebih rendah lagi, yaitu sekitar 0,05.

Etanol diserap dengan cepat melalui difusi. Kadar etanol maksimum di dalam darah sudah tercapai dalam waktu 60-90 menit setelah minum alkohol. Kecepatan penyerapan tentu saja tergantung dari berbagai faktor lambung yang kosong, minuman panas (seperti grog), adanya gula dan karbohidrat (seperti dalam champagne) merangsang penyerapan etanol, sedangkan makanan yang sukar dicerna menghambatnya. Didalam organisme, etanol sangat cepat didistribusikan. Otot dan otak banyak menerima etanol, sebaliknya jaringan lemak sedikit. Dengan kata lain, 70% dari tubuh siap tersedia sebagai ruang distribusi bagi etanol. Jadi, penyerapan yang cepat dan sempurna dari etanol yang terdapat dalam suatu botol bir (16 gr), pada seorang yang berat tubuhnya 70 kg (distribusi dalam 70 kg.70/100=49 kg) menyebabkan suatu kadar etanol dalam darah sebesar 16 gr/49kg=0,33permil (7,2 mM). Konsentrasi etanol yang letal adalah sebesar kurang lebih 3,5 promol (76 mM).

Efek  fisiologis etanol

Etanol dapat menyebabkan hipersensitivitas. Hipersensitivitas adalah reaksi imun yang patologis, terjadi akibat respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Reaksi hipersensitivitas dibagi berdasarkan waktu dan mekanismenya. Berdasarkan waktu, hipersensitivitas dibagi menjadi 3 bagian: reaksi cepat, intermediet, dan lambat. Adapun berdasarkan mekanismenya, menurut Robert Coombs dan Philip HH Gell (1963) dibagi menjadi: tipe I,tipe II, tipe III,dan tipe IV.

Jenis hipersensitivitas Mekanisme imun patologik Mekanisme kerusakan jaringan dan penyakit
Tipe I

Hipersensitivitas cepat

IgE Sel mast dan mediatornya (amin vasoaktif,mediator lipid,sitokin)
Tipe II

Reaksi melalui antibodi

IgM,IgG terhadap permukaan sel atau matriks antigen ekstraseluler Opsonisasi dan fagositosis sel.

Pengerahan leukosit (neutrofil,makrofag) atas pengaruh komplemen dan FcR

Kelainan fungsi selular (misalnya dalam sinyal reseptor hormon)

Tipe III

Kompleks imun

Kompleks imun (antigen dalam sirkulasi dan IgM atau IgG) Penerahan dan aktivasi leukosit
Tipe IV (melalui sel T)

Tipe IVa

Tipe Ivb

  1. CD4+: DTH
  2. CD8+:CTL
  1. Aktivasi makrofag,inflamasi atas pengaruh sitokin
  2. membunuh sel sasaran direk,innflamasi atas pengaruh sitokin.

1. Vasodilatasi

Vasodilatasi adalah pembesaran lumen pembuluh darah akibat relaksasi otot polos sirkuler pembuluh tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi vasodilatasi:

a.penurunan aktivitas miogenik

b.penurunan O2

c.peningkatan CO2

d.stimulasi simpatis

e.panas

Pada pemicu,vasodilatasi disebabkan penggabungan asetaldehid dan protein plasma. Antigen ini merangsang IgE dengan bantuan sel Th. IgE diikat oleh sel mast atau basofil melalui reseptor Fcε. Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka anntigan tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan sel mast atau basofil. Akibat ikatan antigen- IgE,sel mast /basofil mengalami degranulasi dan melepas mediator yang preformed antara lain histamin yang menimbulkan gejala reaksi hipersensitivitas tipe I. Histamin merupakan vasodilator yang dapat menimbulkan vasodilatasi pada arteriol dan peningkatan permeabilitas kapiler .

2. Kemerahan pada muka

IgE  yang biasanya dibentuk dalam jumlah sedikit, segera diikat oleh sel mast atau basofil. IgE yang sudah ada pada permukaan sel mast,akan menetap untuk beberapa minggu. Sensitasi dapat pula terjadi secara pasif bila serum (darah) orang yang alergi dimasukkan ke dalam kulit atau sirkulasi orang normal., reaksi yang terjadi ini dapat berupa eritema (kemerahan oleh karena dilatasi). Kemerahan pada muka dalam pemicu ini diasosiasikan dengan eritema.

3. Takikardi

Vasodilatasi dalam arteriol menyebabkan tekanan dalam arteriol menurun, sehingga menyebabkan rangsangan terhadap saraf simpatis untuk menstimulasi nodus SA. Jika dalam keadaan normal nodus SA ini sebagai pemacu jantung karena memiliki kecepatan depolarisasi spontan tertinggi. Ketika nodus SA mencapai ambang terbentuk potensial aksi yang menyebar keseluruh jantung dan menginduksi jantung berkontraksi atau berdenyut, hal i ni berlangsung sekitar 70 kali /menit, sehingga kecepatan denyut jantung rata-rat adalah 70 kali/menit.

Pada keadaan tertentu, keadaan denyut jantung selalu ditentukan terutama oleh keseimbangan antara efek inhibitorik saraf vagus dan efek stimulatorik saraf simpatis jantung. Pada keadaan istirahat, lepas muatan parasimpatis yang dominan. Pada kenyataannya, jika semua saraf otonom ke jantung dihambat, kecepatan denyut jantung akan meningkat dari nilai rata-rata 70 denyut/menit menjadi sekitar 100 denyut/menit, yaitu kecepatan inheren Nodus SA membentuk potensial aksi apabila tidak dipengaruhi oleh persyarafan apapun. Perubahan kecepatan denyut jantung melebihi tingkat istirahat ini kedua arah dapat terjadi akibat pergeseran keseimbangan pada stimulasi saraf otonom. Kecepatan denyut jantung meningkat oleh peningkatan aktivitas simpatis yang diiringi oleh penurunan aktivitas parasimpatis. Walaupun kontrol kecepatan denyut jantung terutama ditentukan oleh persyarafan otonom, faktor-faktor lain juga berpengaruh. Salah satu yang terpenting adalah epinefrin, suatu hormon yang disekresikan ke dalam darah dari kelenjar adrenal setelah dirangsang oleh saraf simpatis dan bekerja di jantung, serupa dengan nor-epinefrin untuk meningkatkan kecepatan denyut jantung. Dengan demikian, epinefrin memperkuat efek langsung sistem saraf simpatis pada jantung.

References :

  • Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Ed 2. Jakarta : EGC. 2001
  • Baratawidjaja KG. Imunologi dasar. Ed 6. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2004
2 Comments »

ORGANISASI KEHIDUPAN


Organisasi ?! sering dengar kan?..yup..ternyata tubuh manusia (bukan hanya manusia, tapi seluruh makhluk hidup) itu sendiri tersusun  dari berbagai senyawa yang terorganisir secara sempurna. Siapa lagi yang menyusunnya kalau bukan Sang Maha Pencipta Allah Subhanallu wata’ala..darimana kita tahu? Tentu saja  dari firman-Nya yang kemudian akhirnya dibuktikan para ilmuwan…dan telah kita ketahui bahwa dalam firman-Nya (Alquran), Allah SWT telah menjelaskan berbagai aturan hidup untuk manusia tidak hanya untuk urusan akhirat saja, bahkan urusan dunia pun di atur olehNya didalamm Alquran, termasuk juga dengan ilmu kedokteran..so..jangan pernah meninggalkan warisan nabi, Alquran dan Hadits.

Kembali ke organisasi…organisasi kehidupan???

Organisasi kehidupan tersusun dari berbagai materi berikut;

Atom –

Molekul –

Sel –

Jaringan –

Organ –

Sistem organ –

Organisme –

Jika kita mencoba untuk memfikirkan kebesaran Sang pencipta, tubuh kita serta makhluk hidup yang lain tersusun akibat dari organisasi tersebut.

Allah SWT berfirman :

Dan sungguh, kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).kemudian, air mani itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu lalu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian, kami menjadikan makhluk yang (berbentuk lain). Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik. ( QS: Al-mu’minun:12-14)

Dari ayat di atas, Allah menyebutkan bahwa manusia berasal dari saripati tanah. Jika kita perhatikan, saripati tanah terdiri dari suatu atom-atom yang mana jika bergabung akan membentuk suatu molekul..sebagai contoh; saripati yang membentuk manusia itu terdiri dari senyawa protein, lipid (lemak), karbohidrat, dan berbagai molekul lainnya. Dan tentu saja molekul-molekul tersebut merupakan hasil dari atom-atom yang bergabung.

Molekul-molekul itu nantinya akan membentuk sel, pada ayat diatas sel yang dimaksud adalah sel sperma (air mani). Dari sel sperma yang mengalami fusi dengan sel ovum maka membentuk zygot. Kemudian zygot ini akan mengalami pembelahan dari 1 sel menjadi 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel (morula), sampai 32 sel.sel-sel yang semakin kecil ini disebut dengan blastomer.

Kemudian sel-sel yang membelah itu akan mengalami diferensiasi dan berkumpul dengan sel yang sama sehingga terbentuk jaringan. Sebagai contoh adalah jaringan otot (dalam ayat di atas disebut sebagai daging).

Pada minggu ke-3 dari ovulasi (pembuahan) akan terjadi pembentukan organ-organ (organogenesis). Jadi dari jaringan otot tersebut akan terbentuk otot itu sendiri ketika bergabung dengan tulang akan membentuk sistem muskuloskeletal yang berfungsi sebagai sistem gerak. Terakhir, setelah membentuk berbagai sistem organ (sistem saraf, sistem respirasi, kardiovaskuler, sitem muskuloskeletal, dan beberapa sistem tubuh yang lainnya) terbentuklah suatu organisme (manusia atau makhluk hidup lainnya).

Subhanallah atas apa yang telah Allah ciptakan…

Reference:

  • Sadler,TW. Embriologi Kedokteran Langman. Ed 7. Jakarta: EGC. 1997. p23-100
  • Rr Ayu Fitri Hapsari. Kuliah Histologi.



1 Comment »